Setelah kembali dari perjalanan mereka, terjadi percakapan antara ayah dan anak tersebut.
Ayah : “Bagaimana perjalanannya nak?”
Anak : “Perjalanan yang hebat, yah.”
Ayah : “Sudahkah kamu melihat betapa miskinnya orang-orang hidup?”
Anak : “O tentu saja,”
Ayah : “Sekarang ceritakan, apa yang kamu pelajari dari perjalanan itu.”
Anak : “Saya melihat bahwa kita punya satu anjing, tapi mereka punya empat anjing.
- Kita punya kolam renang yang panjangnya sampai pertengahan taman kita, tapi mereka punya anak sungai yang tidak ada ujungnya.
- Kita mendatangkan lampu-lampu untuk taman kita, tapi mereka memiliki cahaya bintang di malam hari.
- Teras tempat kita duduk-duduk membentang hingga halaman depan, sedang teras mereka adalah horizon yang luas.
- Kita punya tanah sempit untuk tinggal, tapi mereka punya ladang sejauh mata memandang.
- Kita punya pembantu yang melayani kita, tapi mereka melayani satu sama lain.
- Kita beli makanan kita, tapi mereka menumbuhkan makanan sendiri.
- Kita punya tembok disekeliling rumah untuk melindungi kita, sedangkan mereka punya teman-teman untuk melindungi mereka.”
Ayah si anak hanya bisa bungkam.
Lalu si anak menambahkan kata-katanya : “Ayah, terima kasih sudah menunjukkan betapa MISKIN-nya kita”.
Hikmah yang bisa diambil dari kisah inspirasi diatas :
- Kaya dan Miskin tergantung pada persepsi kita sendiri, bukan pada penilaian orang lain.
- Orang lain yang tampak miskin bagi kita, boleh jadi termasuk kaya menurut orang lain, atau bahkan mereka sendiri.
- Kisah diatas mendorong kita untuk selalu melihat perspektif lain...
Share Kisah inspirasi dari http://pengharapan.com/siapa-yang-kaya-siapa-yang-miskin.html/
Gambar dari http://deindra.com/

.png)

No comments:
Post a Comment