Dua puluh tiga tahun yang lalu, lahirlah bayi mungil nan tampan yang masih suci tak berdosa. Tak luput dari tangis dan kebahagiaan tuk menyambut sang bayi. Namun, semua itu hilang seketika...........
Ketika mereka tau, bahwa sang anak yang baru di lahirkan hidup tanpa kedua kaki.
Tangis kebahagiaan itu pun berubah menjadi tangis kegelisahan. Kegelisahan yang menyelimuti fikiran sang ibu. Di dalam benaknya sang ibu berfikir , "Sanggupkah, Ia menghadapinya?????" , begitulah kegelisahan sang ibu. Sampai akhirnya.....
Hari demi hari, Bulan demi bulan, Tahun demi tahun pun telah berlalu......
Kini bayi yang mungil tinggal kenangan..Sosok pria bertubuh tegap, gagah, dan tampan, telah menjadi idola baru di Negaranya, Pasalnya, Ia sekarang menyandang status sebagai atlet lari maraton tercepat . . . . . ????
Walau iya tak mempunyai kedua kaki, namun semangat hidupnya yang luar biasa, yang telah merubahnya, hingga sekarang. Ia menggunakan kaki palsunya yang menyerupai per untuk menopang tubuhnya.
Hidupnya kini tergantung pada kaki tersebut. Karena tanpa bantuan kaki palsu tersebut, Ia tidak akan mungkin menyandang ststus sebagai atlet. Ia tidak pernah malu, ataupun membenci dirinya sendiri. Karena ia tau, mungkin semua ini adalah jalan yang terbaik yang telah di berikan Tuhan Yang Maha Esa untuknya.
Dan satu kata yang pasti diucapkan ketika di sambut oleh para pers. Ia berkata : " I don't stop when i'm tired, I stop when i'm done " Perkataannya membuat orang lain tersadar bahwa jika kita dapat mensyukuri hidup ini, itulah yang namanya KEBAHAGIAAN..... Maka, " JANGANLAH ENGKAU BERPUTUS ASA DALAM HIDUPMU "
Karena sesungguhnya.....
" Manusia tak ada yang Sempurna "
Karya : Bernadeta Naftania Eka Rini


This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDelete